Bimbang Untuk Menunggu




Jika ada satu bentuk penghargaan untuk kategori penyiksaan terbaik, mungkin akan jatuh pada kegiatan menunggu. Akumulasi dari kegiatan bosan, semangat, jenuh, menahan perasaan, dan mungkin sedikit lelah. Namun ada rasa “penuh harapan” yang terus membakar hingga akumulasi dari semua itu terasa “meyakinkan”.

“Sedikit lagi.. aku yakin.”

Sebuah penggalan kalimat dari para penunggu sepertiku untuk menguatkan apa yang aku yakini akan menjadi milikku.




Menunggumu untuk peka. Aku selalu berusaha menjadi orang yang selalu ada. Aku ingin hanya namaku yang terlintas dalam otakmu saat suka maupun duka.  Sekuat apapun usahaku untuk menarik perhatianmu, aku akan tetap menjadi angin lalu. Dapat menyentuhmu namun tidak menggenggammu.

Menunggumu untuk memahami. Andai saja kita bisa saling bertukar rasa, mungkin kamu akan paham bagaimana menyiksanya menanti. Hidup dalam keyakinan bahwa bahagia denganmu itu pasti. Berusaha untuk dimengerti namun kamu tak ingin kembali mengerti. Ketahuilah, menunggumu untuk faham itu menyiksa hati.

Menunggumu yang tak menentu. Aku berjalan menujumu, namun kamu melangkah dengan yang lain. Aku berhenti untuk menunggu saat yang tepat, namun seperti kilat kamu bersama yang lain. Terus dan terus saja terjadi.  Aku cuman bisa sambat. Entah aku yang terlambat, atau kamu yang terlalu cepat. Bisakah kamu berhenti sejenak dan berputar ke belakang? Karena disitu ada aku yang masih menjadi bayang-bayang.

Menunggumu untuk sebuah kepastian. Aku memberi perhatian bukan karena tanpa alasan. Aku menyukaimu dari tiap inchi yang ada padamu. Aku nyaman bila berada di dekatmu. Tidakkah kamu sadari bahwa mataku tak mampu untuk berpaling memandangmu? Rasa yang seperti ini menuntut atas kepemilikan. Jangan ingin namun seperti tak ingin. 

Menunggumu untuk  percaya. Kita pernah beradu saling menyalahkan. Lalu akhirnya sama-sama terpuruk dalam penyesalan. Kita pernah mencoba untuk mencari kebahagiaan di lain hati. Namun semesta selalu menuntun untuk kembali. Tidakah kamu bisa percaya bahwa semua ini adalah takdir dan bukan kebetulan semata? Lalu harus berapa lama lagi aku menunggumu untuk percaya bahwa akulah bagian dari tulang rusukmu? Katakan. Agar aku punya alasan untuk tetap menunggu.




Aku letih dan mulai tertatih..


Menunggumu yang selalu membikin perih. Maaf bila akhirnya aku harus menyerah. Bukan karena aku sudah tidak yakin, melainkan karena aku sadar bahwa memperjuangkan tak harus sebodoh itu. membuang waktu untuk hal yang tak menentu.

Hanya karena kamu “sempurna” dimataku, bukan berarti aku harus larut dalam rasa sakit yang tak berujung. Sejatinya, pasangan yang sempurna bukanlah dari dua orang yang sama-sama sempurna. Melainkan dari dua insan yang tidak sempurna dan berjalan bersama untuk saling menyempurnakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Behind the story cover from Keset Kusut

Hiburan Bagi Kamu Yang Dirundung Galau

Ikhlas