Behind the story cover from Keset Kusut

Judul Buku : Keset Kusut - baper-baper dahulu, susah move on kemudian
Penulis : Arie Je
Penerbit : Bukune
Tanggal Terbit : masih dirahasiakan biar surprise
Batinku seakan terketuk setelah
membaca tantangan bukune untuk mengartikan cover buku Keset Kusut ini. Aku juga
merasa tertarik saat melihat gambar cover ini. Aliran abstrakisme dan emosinya
nyampe banget (sok-sokan seniman dikit gak apalah).
Supaya
aku tau ‘sedikit’ tentang buku ini, aku membaca beberapa kicauan-kicauan di
twitter tentang #KesetKusut. Setelah membacanya dan mendapat sedikit pengetahuan,
aku sekarang yakin kalo buku ini bukanlah buku tentang tutorial hijab ataupun
buku lancar ASI. Well, ijinkanlah aku
untuk mengartikan cover buku Bang Arie ini menurut pandanganku, keyakinanku dan
suka-sukaku.
Pertama,
aku mau mulai dari gambar keset WELCOME. Banyak dari orang-orang yang hanya
mengerti arti keset hanyalah sebagai alat yang membersihkan kaki/alas kaki yang
kotor. Padahal, filosofi keset itu sendiri sangat mendalam. Keset WELCOME
meskipun sering di injak-injak tiap harinya, tulisan WELCOME ynag terpapang
ditengah nggak akan luntur ataupun berubah menjadi BYE-BYE. Dia akan selalu welcome pada siapapun yang hadir meski
kehadirannya hanya sekedar menginjakan kakinya saja. Mungkin, Bang Arie ingin
menyampaikan bahwa tokoh utama buku ini (sebut saja AJ) adalah pria baik hati
yang dengan rela hatinya dijadikan ‘keset’ dan tempat singgah sementara oleh
wanita. Sebenarnya nggak ada satupun pria di dunia ini yang ingin hatinya
disamakan dengan posko gawat darurat. Hanya ditempati saat keadaan genting, dan
tinggalkan saat semuanya kembali seperti biasa. Namun apalah daya seorang lelaki baik hati ketika ada seorang wanita
mendekat dengan bercucuran air mata yang membutuhkan tempat bersandar?
Kedua,
tagline : Baper-baper dahulu, susah move on
kemudian. Orang yang gampang baper
aliar kebawa perasaan adalah orang-orang yang rentan di PHP-in. Urutan orang baper bisa menjadi korban PHP akan
melalui beberapa tahap sebagai berikut :
Perhatian > Kebersamaan > Perasaan > Kandas di Tengah Jalan
Perhatian :
Cewek kalo lagi sedih, emosi atau
abis berantem sama pacarnya, pasti yang dibutuhkan adalah teman curhat. Saat
dia sedang emosi, dia nggak butuh saran A,B,C dan blablabla. Dia cuman butuh seseorang yang mampu mendengarkan semua
keluh kesalnya. Cowok adalah makhluk yang tepat dijadikan tempat curhat. Kenapa? Cowok itu nggak banyak ngomong,
bisa momong, dan favoritnya buah kedondong (yang terakhir itu aku banget!).
Kebersamaan :
Cowok yang baik hati dan nggak
kuasa ngeliat cewek sedih, pasti berusaha menghiburnya entah dengan mengajak
nonton, makan, atau mendaki gunung lewati lembah biar kekinian. Waktu yang
dihabiskan bersama-sama ini, akan membuat cewek merasa nyaman dan sedikit
melupakan permasalahannya. Tanda-tanda kebawa perasaan biasanya udah muncul di
tahap ini.
Perasaan :
Ingat pepatah jawa : Tresna Jalaran Saka Kulina (cinta tumbuh
karena terbiasa). Iya, terbiasa bersama. Mau nggak mau, rasa yang dinamakan
cinta itu akan tumbuh seperti rumput liar yang memenuhi hamparan tanah.
Kandas Di tengah Jalan :
Yayayaya! Udah menghabiskan waktu
bersama, menghapuskan kesedihan, kebawa perasaan jadi cinta, eh ceweknya lebih
milih balik ke pacarnya. Ya ini yang disebut Pemberi Harapan Palsu. Kenapa bisa kandas di tengah jalan?
Karena cewek yang datang hanya butuh
tempat berisitrahat sejenak, bukan meninggalkan untuk mendapat yang
lebih baik. Emmm semacam butuh hiburan. Kok
gitu? Meneketehe, mungkin situ mirip
odong-odong keliling?
Nggak semua cowok yang gampang baper mengalami hal seperti ini. Intinya
pinter-pinter baca situasi dan kondisi kenapa tiba-tiba ada cewek yang datang,
apalagi dalam keadaan emosi. Ingat! Pasti ada alasan kenapa udang ada di balik batu.
Ketiga,
tentang gambar animasi makhluk-makhluk bermata nanar itu. Aku anggap itu
sebagai wujud dari cewek-cewek yang singgah ke keset kusutnya sang tokoh. Yang
nggak habis pikir kenapa ada emak-emak berkonde di dekat tulisan Arie Je?
Apakah emak-emak berkonde juga termasuk orang yang singgah dihatinya? Aku cuman
bisa berharap, semoga sang tokoh bisa belajar bahwa pasangan beda usia itu
cuman ada dua kemungkinan dan dua persamaan. Kemungkinan gagal seperti
Raffi-Yuni, atau kemungkinan berhasil seperti Pendekar Rajawali dan Bibi Lung
yang beda umurnya ratusan tahun.
Well, aku mau bercerita sedikit tentang
pengalamanku yang serupa dengan buku ini. Aku juga seorang lelaki baik hati
seperti tokoh di buku itu. Mungkin nggak ada lembaga survey yang melakukan
riset seberapa baiknya aku dimata kaum hawa, tapi percayalah, aku selalu
menyelipkan surt Al-Fatikah setelah membunuh kecoa.
Aku adalah
orang yang pernah bahkan mungkin masih menjadi “keset welcome” seorang cewek
yang notabenenya adalah sahabatku sendiri. Hampir setiap waktu di sekolah aku
habiskan bersamanya dan kemudian pepatah Jawa itu pun aku alami sendiri.
Aku tau persis
bagaimana
rasanya mencintai seseorang yang sudah punya pacar. Terkadang jika
malam datang, aku nggak segan-segan menyelipkan doa dari sisi egoisku. Berharap
dia bisa putus dan memahami perasaanku. Hingga pada akhirnya Tuhan mengabulkan
doaku. Hubunganya berada diujung tanduk. Dia berlari kearahku dengan segumpal
kemarahan. Kemarahan yang disebabkan kekasihnya. Saat itu aku memposisikan diri
sebagai pendengar baik, bukan penasihat baik. Ia menceritakan semua
kejengkelannya dari A sampai Z. Bahkan, dia nggak segan-segan menumpahkan air
matanya padaku. Disini, harusnya aku bisa mengambil kesempatan mempengaruhinya untuk
putus dengan pacarnya. Sayang, aku nggak bisa. Merealisasikan rasa egois nggak
semudah saat aku berdoa. Aku egois, tapi nggak tega! Aku nggak tega
menghancurkan mimpi indah yang ia rajut dengan kekasihnya. Aku belum siap jika
kelak akan disebut sebagai ‘pihak ketiga’.
Beberapa hari
setelah itu, aku menemukan dirinya telah kembali larut dalam canda tawa bersama
kekasihnya.
Nggak adil? Memang! Tapi aku bisa apa? Aku nggak lebih baik dari tempat sampah yang
dijadikan tempat membuang semua kekesalannya. Situasi yang seperti itu
membuatku memberanikan diri untuk menyatakan perasaan. Dipikiranku, aku nggak
membutuhkan jawaban, “Aku mau jadi pacar kamu”. Aku hanya ingin menyampaikan
padanya bahwa aku manusia yang punya rasa, bukan tenda bencana alam yang hanya
ditempati saat terjadi gempa bumi atau tempat sampah yang menampung semua
amarahnya. Yaaa, meski sebenarnya jawaban seperti itu yang aku harapkan. Namun,
semesta nggak bisa diajak kompromi. Jawaban yang aku dapat hanya kata maaf.
Setelah
kejadian itu, hubungan kami menjadi renggang dan canggung. Aku juga memutuskan
untuk move on. Banyak hal yang aku
lakukan seperti mencari kenalan cewek-cewek cantik di media sosial, ikut banyak
organisasi biar bisa dapet akses mudah ngedeketin adik-adik kelas yang masih
berusia ranum, dan hal-hal jomblo nista lainnya. Saat aku sedang berupaya
menghilangkan rasa yang dulu, saat aku berjuang untuk mendapatkan penggantinya,
dia hadir kembali untuk memperbaiki keadaan yang renggang dan canggung. Itulah
yang akhirnya membuat kalimat Move On
seberat mendaki Mount Everest sambil
nggendong Finalis Miss Big Indonesia. Dia kembali
tertawa bersamaku, dia kembali ceria bersamaku, dia kembali bercerita kepadaku,
dan tanpa disadari, aku kembali menjadi “keset welcome”-nya..... lagi.
Entah kapan semua ini berakhir. Aku hanya bisa
menikmati tiap rasa sakitnya. Menikmati hingga nggak bisa merasakan rasa sakit
itu sendiri. Seolah-olah sudah terbiasa, atau lebih tepatnya mati rasa. Tapi
satu hal yang aku tau. sebuah keset, akan
kusut bila terlalu sering dipakai.
Itulah
hasil review cover buku karya Arie Je ; Keset Kusut yang bertajuk curhatan
pribadiku. Mohon maaf bila review ini sedikit atau sangat menyimpang jauh dari
arti sesungguhnya. FYI, setelah
mengetik cerita ini, aku jadi dapat ide untuk ending naskah novel yang sedang aku kerjakan. Menang sebenarnya
bukan tujuan utama, Tapi kalo diijinkan memenangkan kompetisi ini, ya cuman bisa mengucapkan syukur alhamdulillah. Aku mah neriman orangnya. Semoga bang Arie Je berkenan menjadi temanku dan saling
berbagi pengalaman tentang dunia menulis yang baru saja aku jajaki, lebih-lebih
tertarik untuk mengomentari naskahku J
sebagai persembahan terakhirku, silakan menikmati lagu ini. lebih-lebih kalo tetarik mencari lirik translate bahasa Indonesia nya.
Thank you....
Wooow. Curhat Bersama Mama Ngonde' ya, Bang. Suksesssss. :D Curhatannya butuh Ember penampung Sungai Duka. :)
BalasHapusItu embernya syahrini ya? :D. Thengkyu aja deh ahahaha
BalasHapus